Tabe Cafe n Resto, Spot Longgar di Jalan Teuku Umar

BANDAR LAMPUNG – Musik berirama pop mengalun lembut menelusup setiap ruang di Tabe Cofe n Resto, Selasa malam lalu. Faisal, sang pemetik tuts keyboard Yamaha Seri PSR itu begitu peka suasana. Belasan tamu yang sedang menikmati suasana usai makan malam tampak membahas suatu topik dalam obrolan ringan.

“Sepertinya para tamu sedang membahas sesuatu. Jadi volume musiknya kami sesuaikan agar suasana nyaman dan obrolan tetap terdengar,” kata Faisal tentang pilihan lagu dan volume dari musik yang dimainkan di Tabe Cafe n Resto yang berada di Jalan Teuku Umar Nomor 43 Kedaton, Bandar Lampung itu.

Tabe Cafe n Resto ini menjadi satu spot yang menyajikan suasana makan dengan nuansa rileks di ruas jalur arteri Kota Bandar Lampung ini. Di tengah impitan bangunan ruko dengan aktivitas bisnis umum, tak banyak pilihan tempat makan yang nyaman bagi pengunjung.

“Banyak tempat makan di sepanjang jalan ini, tetapi lebih berkonsep siap saji. Kalau malam juga sangat ramai dengan angkringan, tetapi kan suasananya berbeda. Kami sengaja buka di sini agar ada pilihan tempat makan yang lebih rileks dan nyaman. Sebab, di jalur ini sepertinya tidak ada,” kata Prima, owner sekaligus pegelola Tabe Cafe n Resto.

Secara keseluruhan, Tabe Cofe n Resto terlihat seperti rumah makan berkonsep tradisional. Dari depan, tamu dari kalangan dan level apapun akan merasa percaya diri untuk masuk dan menemukan menu-menu ditawarkan. Live musik yang setiap hari dimainkan menjadi salah satu ungkapan “selamat datang” sembari menawarkan pilihan tempat duduk yang dirasa akan memberikan rasa nyaman.

Prima mengatakan, ruang makan di kafe yang dia kelola sengaja memberikan beberapa pilihan nuansa. Di bagian depan, beberapa opsi ruang dengan suasana pop lainnya juga tersedia. Dari deretan meja kursi log natural, meja kursi futura, meja kursi plastik ala angkringan, lesehan, ruang dengan suasana teras losmen, hingga konsep ruang rapat dengan pendingin udara tersedia.

“Kami siapkan cafe n resto ini untuk berbagai kalangan yang bisa memilih tempat yang dianggap cocok dan nyaman. Artinya, kami ada untuk semua level generasi. Ini resto keluarga,” kata ibu satu anak yang resign dari salah satu perusahaan BUMN ini.

Tentang menu yang tersedia, Prima menyodorkan buku daftar menu yang tersedia. Dari makanan berat berbasis nasi dengan aneka lauknya, epetizer, aneka camilan, berbagai minuman panas, dingin, maupun jus, hingga hidangan penutup.

Soal harga, Prima mengaku ada beberapa teman yang sempat singgah dan menikmati makanannya mengungkapkan sangat terjangkau. Menyebut salah satu menu andalannya, yakni ayam bakar madu, dipasang dengan tarif Rp18 ribu per porsi lengkap dengan nasi, sambal, tempe goreng, dan lalapan sederhana.

“Saya sempat ditanya beberapa tamu. Katanya harganya terlalu murah. Dengan berbagai pertimbangan, kemungkinan akan kami sesuaikan. Tetapi saya pastikan tidak terlalu tinggi. Artinya, masih selevel harga angkringan, lah. Kami juga cantumkan harganya di daftar menu agar tamu merasa nyaman sejak masuk,” kata perempuan berhijab ini.

Mengenai nama cafenya, Prima mengaku mengadobsi dari satu kata dalam Bahasa Makasar. Tabe, kata dia, maknanya adalah kenyamanan, keramahan, dan suasana yang akrab. Apakah Prima atau suaminya berdarah Bugis?

“Ah, enggak sih. Saya orang Jawa dan suami saya orang Lampung. Nah, kami pakai kata dari Bahasa Makasar karena maknanya sangat pas dan kebetulan identik dengan panggilan sayang untuk putri kami ; Tabe.”

Tunggu apa lagi. Ayoklah merapat…!(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.