Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Ekonomi dan Sektor Keuangan Syariah di Indonesia

NAMA : LUTFIA APRILIAN
PEKERJAAN : MAHASISWI
JURUSAN : AKUNTANSI SYARIAH
ASAL UNIVERSITAS: UIN RADEN INTAN LAMPUNG
DOSEN PENGAMPU : Dr. MUHAMMAD IQBAL FASA, M.E.I

Pada akhir tahun 2019 kemarin, dunia telah dihebohkan oleh COVID-19 atau yang dikenal sebagai wabah virus corona. Virus ini pertama kali mewabah berasal dari wilayah Wuhan di China. Baru-baru ini, jumlah laporan tentang wabah COVID-19 terus meningkat di Indonesia.

Pemerintah menyatakan bahwa jumlah pasien yang dinyatakan positif virus corona dan mengidap COVID-19 terus bertambah. Kasus ini sudah tentu bukan merupakan suatu hal yang kita anggap ringan.

Pandemik COVID-19 telah menyebar hampir seluruh negara di Dunia. Kondisi ini menjadikan banyak negara mengambil tindakan luar biasa untuk mencegah penyebaran dan menanggulangi dampak wabah ini. Misalnya dengan melakukan Lockdown,Tracing dan Rapid Test.

Selain berdampak dalam bidang kesehatan, pandemik ini juga akan berakibat pada krisis yang lebih luas, khususnya dalam bidang ekonomi dan keuangan. Termasuk sektor industri keuangan syariah dan industri halal lainnya. Bagaimana dampak pandemik COVID-19 berpengaruh pada sektor ekonomi dan keuangan syariah?
Epidemi adalah peningkatan jumlah kasus penyakit di luar apa yang biasanya diharapkan di wilayah geografis, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit. Seringkali, peningkatan kasus terjadi dengan cepat. Pandemi didefinisikan sebagai “epidemi yang terjadi di seluruh dunia, atau di wilayah yang sangat luas, melintasi batas internasional dan biasanya memengaruhi banyak orang”. COVID-19 adalah singkatan dari Corona Virus Disease 2019. Suatu nama penyakit. COVID-19 disebabkan oleh severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS- CoV-2). Penyebaran awal diduga berasal hewan (kelelawar, trenggiling) yang dikonsumsi disekitar pasar di Wuhan,China.

Pertumbuhan 1000 kasus per hari dengan pola pertumbuhan eksponensial. Belum ditemukannya vaksin atau obat bagi virus ini. 25 juta orang diperkirakan akan kehilangan pekerjaan. Pendapatan perusahaan menurun drastis. Menurunnya harga komoditas dunia. (minyak bumi $30/barrel). Pertumbuhan ekonomi negara-negara akan berkurang secara signifikan. Menurunnya indeks pasar modal diseluruh dunia.

China melakukan lockdown terhadap kota Wuhan dan Provinsi Hubei sebagai pusat penyebaran virus. Korea Selatan, melakukan tes masal (rapid test) terhadap warga negaranya, misalnya menggunakan tempat telepon umum dan tracing yaitu menelusuri kontak antara yang positif dengan orang lain. Italy, melakukan lockdown meskipun terlambat. Indonesia, melakukan tes massal dan sedang mempertimbangkan lockdown.

PBB telah menyiapkan anggaran sebesar $2 miliar untuk menanggulangi penyebaran wabah. Islamic Development Bank (IDB) menyiapkan anggaran $ 2 miliar untuk paket kebijakan merespon pandemik COVID-19. International Monetary Funds (IMF) akan menggelontorkan $ 1 triliun untuk menanggulangi dampak wabah pada negara-negara anggotanya.

Pandemik COVID-19 akan mengakibatkan resesi dan krisis ekonomi global. BI merevisi target pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 menjadi 4,2 – 4,6 persen. IHSG telah menyentuh posisi terendahnya selama 8 tahun terakhir (3937). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika menembus Rp. 17.000 per dolar AS.

Pandemik COVID-19 akan lebih dulu berdampak pada sektor produksi dan pengeluaran. Konsumen akan menurunkan pengeluarannya (misalnya di sektor pariwisata) dan berdampak negatif bagi perusahaan. Penurunan pendapatan perusahaan akan mengakibatkan laba negatif, pengurangan produksi dan meningkatnya PHK. Terkecuali untuk sektor kesehatan yang justru mengalami kenaikan permintaan dan pendapatan yang signifikan.

Menurunnya pengeluaran konsumen akan berdampak negatif untuk perusahaan misalnya di sektor pariwisata, penerbangan, minyak bumi, makanan dan minuman. Arus kas perusahaan di sektor-sektor tersebut akan terganggu dan laba menjadi negatif. Sebagian perusahaan akan collapse. Perusahaan yang mendapatkan pembiayaan dari perbankan syariah akan kesulitan melunasi kewajibannya. Geliat di pasar modal syariah akan menurun karena investor cenderung menjual surat berharga daripada membeli.

Sektor industri halal juga mengalami penurunan signifikan. Bank dan lembaga keuangan syariah lainnya akan menghadapi situasi meningkatnya pembiayaan macet (nonperforming financing). Krisis keuangan global 2008 dimulai dari sektor keuangan dan berpengaruh pada sektor riil. Krisis saat ini sebaliknya. Kinerja perbankan syariah dalam tren yang menurun, pandemik COVID-19 akan memperburuk kondisi tersebut.

Memburuknya kondisi keuangan lembaga keuangan syariah akan berakibat PHK dan kebangkrutan. Di sektor pasar modal syariah, akan terjadi penurunan penerbitan sukuk karena perusahaan akan mengurangi kegiatan dan rencana ekspansi. Di sektor Haji dan Umrah juga akan mengalami penurunan signifikan.
Peran ZISWAF (third sector) akan meningkat. Karena kondisi saat ini adalah kondisi luar biasa yang terjadi di seluruh negara di dunia. Dari perspektif ekonomi Islam, menurut saya, pemerintah dan stakeholders lainnya perlu memberikan pertolongan terhadap pihak yang paling keras terdampak. Misalnya kelas bawah dan para pekerja di sektor kesehatan. Mereka perlu ditolong secara moril dan materil. Maka peran ZISWAF perlu dioptimalkan di sini.

Lantas bagaimana cara mengoptimalkannya?
Antar lembaga ZISWAF saling bersinergi termasuk dengan pemerintah, swasta, tokoh masyarakat, influencer mulai menggalang dana untuk membantu masyarakat kelas bawah. Namun, jika tidak dikoordinasikan dengan baik, akan terjadi timpang tindih dan sebagian masyarakat tidak dapat dijangkau.
Di tengah musibah corona yang sedang terjadi saat ini, kegiatan ekonomi menjadi terancam, akibat tidak adanya kegiatan perekonomian di masyarakat, serta sektor keuangan juga mengalami masalah disebabkan oleh tidak adanya kegiatan jual beli serta investasi yang kian hari semakin menurun.

Maka dari itu peranan ZISWAF, serta peran pemerintah, swasta maupun masyarakat haruslah sinkron untuk menghadapi permasalah yang terjadi saat ini, seperti kenaikan harga pangan, kenaikan harga alat-alat kebutuhan kesehatan, dan sebagainya.

Diharapkan adanya kerjasama antara seluruh elemen masyarakat akan penyediaan alat-alat kesehatan, seperti masker, hand sanitizer sederhana, dan lain-lain tetapi dengan catatan tidak menaikkan harga sehingga masyarakat kita bisa semakin terhindar dari virus corona ini. Selain itu, kita sebagai masyarakat sudah seharusnya mendukung program pemerintah dalam upaya menangani wabah virus corona yang semakin meluas, yaitu pemerintah menganjurkan masyarakat untuk menerapkan social distancing atau pembatasan sosial. Beberapa contoh penerapannya, yaitu bekerja dari rumah (work from home), belajar di rumah secara online bagi siswa sekolah dan mahasiswa, menunda pertemuan atau acara yang dihadiri orang banyak, dan tidak mengunjungi orang yang sedang sakit. Selain itu, selalu terapkan perilaku hidup bersih dan sehat, selalu mencuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas di luar rumah atau di tempat umum dan menggunakan masker saat beraktivitas di tempat umum atau keramaian agar dapat memutus rantai penyebaran COVID-19 di negara kita ini.

Related Posts

About The Author

Add Comment

7 views