LAMPUNG SELATAN (SB) – Dunia sastra dan kepemimpinan daerah bertemu dalam sebuah narasi yang menggugah. Karya puisi terbaru Edwin Apriadi, jurnalis senior yang dikenal dengan pena idealis dan bahasanya yang lugas penuh makna, kembali menyita perhatian. Kali ini, ia mengabadikan momen pelantikan 17 pejabat Pimpinan Tinggi Pratama (eselon II) oleh Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama (REP) , dalam puisi berjudul “Sumpah Kekuasaan di Hadapan Ombak dan Rakyat”.
Pelantikan yang digelar di Dermaga Bom, Kalianda, pada Selasa (6/1/2026) lalu, bukan sekadar acara seremonial biasa. Edwin melihatnya sebagai sebuah simbol kuat. Dalam puisinya, Dermaga Bom dihadirkan sebagai “jembatan” antara pemerintah dan masyarakat, sementara laut luas dan ombak menjadi metafora bagi harapan rakyat dan dinamika tantangan yang harus dihadapi seorang pemimpin.
Puisi ini dengan cermat menyelipkan detail penting acara, seperti penggunaan aksesori adat Lampung (tukus dan kumbut), yang digambarkan sebagai “jiwa yang tak terpisahkan dari tubuh kepemimpinan”. Lebih dari itu, Edwin mengolah pesan inti Bupati Radityo Egi Pratama tentang kepemimpinan yang harus dekat dengan rakyat menjadi baris-baris puisi yang menyentuh relung hati. Jabatan, dalam sudut pandang puisi ini, bukanlah tempat untuk menjauh, melainkan untuk “merasakan langsung aspirasi dan menjadi ujung tombak perubahan”.
Sebuah pertanyaan reflektif dalam puisinya, “Warisan apa yang kau tinggalkan?”, disebutkan melayang lebih tajam dari matahari terbenam, mengajak setiap pejabat dan pembaca untuk berefleksi tentang esensi pengabdian.
Menanggapi karya ini, Saefunnaim, Aktivis dan Sekretaris Karangtaruna Kabupaten Lampung Selatan, menyatakan bahwa puisi Edwin Apriadi berfungsi sebagai cermin kondisi masyarakat. “Puisi-puisinya mampu menyampaikan suara mereka yang seringkali terdiam,” ujarnya. Khusus untuk puisi pelantikan ini, Saefunnaim menilai Edwin berhasil menangkap esensi langkah inovatif pemerintah daerah. “Pelantikan di Dermaga Bom adalah pernyataan untuk dekat dengan masyarakat, terutama nelayan dan pelaku sektor kelautan. Puisi Edwin mengabadikan makna itu dengan indah, termasuk simbolisme pelepasan benih ikan sebagai investasi masa depan,” jelasnya Saepunnaim atau yang akrab disapa Kang Ayi
Sebagai aktivis pemuda, Kang Ayi juga menekankan peran sastra seperti ini dalam membangun kesadaran sosial dan cinta tanah air. Melalui bahasa yang kaya makna, puisi Edwin Apriadi tidak hanya menjadi ekspresi seni, tetapi juga penggerak hati nurani untuk berkontribusi pada pembangunan yang manusiawi dan berkelanjutan.
Karya ini semakin mengukuhkan posisi Edwin Apriadi sebagai penyair yang mampu merajut realitas sosial, politik, dan budaya ke dalam untaian kata yang mengajak publik tidak hanya membaca, tetapi juga merenung. Pelantikan pejabat di tepi laut pun menjadi sebuah fragmen epik tentang janji, tanggung jawab, dan harapan bersama di bawah kepemimpinan Radityo Egi Pratama. (Re)






