Arya Sandhiyudha: Jika Ilmuan Tidak Dihargai, Bencana Bagi Sebuah Kebijakan

JAKARTA(SB) – Progressive Democracy Watch menyelenggarakan diskusi dengan tema “The Strategic Idea to Fight Covid-19” dengan narasumber Arya Sandhiyudha, Fithrah Faisal dan Bhima Yudhistira.

Pengamat Politik Internasional lulusan Istanbul University Arya Sandhiyudha mengatakan bahwa ada lima pendekatan untuk melandaikan kurva penyebaran covid-19.

“Pertama, Pendekatan Transparansi dan Krusial (Transparent & Crucial Approach), kedua Pendekatan waspada (Cautious Approach) ketiga, Pendekatan yang cepat dan mudah (Prompt & Cheap Approach), keempat Pendekatan berbasis Rumah Sakit (Hospital Oriented Based Approach), kelima pendekatan pemutus perjalanan virus (Circuit Breaker Approach)” Ujar Arya.

Arya yang juga sebagai Direktur Eksekutif The Indonesian Democracy Initiative (TIDI) Mengatakan bahwa jika ilmuan tidak dihargai, maka bencana bagi sebuah kebijakan.

“Kita harus percaya dengan analisa dari ilmuan, kalau ilmuan sudah tidak di percaya, maka akan bencana bagi sebuah kebijakan” tegar arya.

Selanjutnya Arya mengingatkan bahwa mudik menjadi penentu penyebaran virus lebih luas lagi.

“Nanti yang akan menjadi momentum penentu yaitu Mudik. Karena wilayah tempat mudik yang dituju itu akan menjadi epicenter baru. Lebih sulit pengawasan di wilayah rural (pedesaan) daripada wilayah urban (perkotaan)”

sedangkan pakar ekonomi dari Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastadi mengatakan bahwa jika kita selamatkan nyawa manusia, maka akan lebih lebih muda selamatkan ekonomi.

“If we save humanity, we save economy, Selamatkan nyawa manusia dulu baru ekonomi. Karena proses recovery-nya akan lebih cepat,” Ujar Fithra.

Selanjutnya Fithra yang juga sebagai Direktur Next Policy mengatakan bahwa “Covid-19 tanpa prompt action maka akan terjadi permanent impact loss on human capital”.

“Harga minyak dunia rendah dapat dimanfaatkan pemeritah untuk mencabut subsidi BBM dan dialokasikan untuk menambah anggaran untuk jaring pengaman sosial. Ini lebih berguna dibandingkan dengan kartu prakerja yang kurang tepat guna, dipilih secara random, itu menimbulkan kecemburuan sosial”.

“Kartu prakerja bisa disesuaikan menjadi semacam tambahan bagi jaring pengaman sosial, sehingga dampaknya akan lebih terasa”, tegas Fithra dalam menjawab pertanyaan peserta diskusi.

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira mempertanyakan kenapa Indonesia kurang diperharrikan oleh solidaritas global.

“Kenapa solidaritas global di Indonesia tidak terasa? Sepertinya Indonesia mengucilkan diri dari itu. Kita harus autocritic. Jangan-jangan selama ini kita kurang proaktif, terlihat dari sedikitnya yang membantu”. (*)

Related Posts

About The Author

Add Comment

5 views